5 Tradisi Unik Suku Nias
PULAU Nias di Sumatera Utara memiliki beragam tempat wisata dan dikenal sebagai surganya pencinta surfing. Suku Nias yang mendiami pulau di Samudera Hindia itu juga punya beragam tradisi budaya yang unik.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Nias punya hukum adat sendiri yang dikenal dengan istilah fondrako. Mereka sangat kuat menjaga adat budaya warisan leluhur. Hampir tiap tahun menggelar upacara adat yang beberapa di antaranya jadi daya tarik wisata.
Berikut 5 tradisi dan budaya unik suku Nias.
1. Manafo
Manafo merupakan tradisi mengunyah sirih khas orang Nias. Sirih jadi simbol persahabatan di Nias. Masyarakat setempat akan menyajikan sirih kepada tamu untuk dikunyah sebagai lambang kedekatan.
Ada juga upacara tradisional penyambutan tamu penting dengan disajikan sirih. Ada 5 bahan alami yang digunakan dalam sirih ini, yang dikenal dalam bahasa Nias Afo seperti daun sirih (tawuo), kapur (betua), gambir (gambe), tembakau (bago), dan pinang (fino).
2. Famato Harimau
Famato harimau atau upacara harimau dilakukan 7 tahun atau 14 tahun sekali. Dalam pelaksanaannya, masyarakat akan mengarak patung harimau lalu dilemparkan ke sungai.
Upacara ini diyakini dapat membersihkan dosa manusia. Segala dosa dipercaya akan hanyut bersama.
3. Manga'i Binu
Manga’i binu merupakan tradisi berburu kepala manusia. Mangai artinya mengambil dan binu artinya dahulu.
Menurut sejarah tradisi ini sudah ada sejak 851. Dulu, setiap laki-laki Nias yang ingin menikah diwajibkan memenggal minimal satu kepala manusia. Tradisi ini dianggap untuk menghormati leluhur, kemudian berkembang jadi penanda status sosial.
Orang yang menjalankan tradisi ini disebut emali. Sebelum berburu kepala manusia, emali biasanya akan menyiapkan diri dengan berbagai peralatan dan ritual yang membuatnya kebal. Kemudian akan menjelajar berbagai daerah mencari mangsa.
Emali akan memenggal kepala manusia lalu kepalanya akan dibawa untuk diserahkan sebagai syarat menikah.
Namun, seiring masuknya agama Kristen ke Nias, masyarakat mulai meninggalkan tradisi penggal kepala tersebut. Sekarang tradisi horor ini hanya jadi sejarah yang melegenda.
4. Fahombo Batu
Lompat batu atau fahombo batu merupakan tradisi suku Nias yang sangat populer dan jadi daya tarik bagi wisatawan. Lompat batu jadi agenda tahunan Nias. Masyarakat setempat menunjukkan keterampilannya dengan melompati batu setinggi 1,8 sampai 2,2 meter.
Tradisi ini merupakan simbol kedewasaan dan keberanian terhadap laki-laki di Nias Selatan. Dulu upacara Hombo Batu dilakukan untuk merayakan seseorang yang layak menjadi prajurit atau orang yang tangguh.
Masyarakat suku Nias sebelum melakukan lompat batu itu, tidak lupa untuk melakukan upacara untuk meminta restu terhadap leluhur agar tidak celaka.
Keterampilan dalam tradisi ini selalu mereka latih untuk berjaga dari serangan musuh.
5. Tari Mogaele
Jenis tarian ini merupakan tradisi Hilinawalo Fau, yang dilakukan dalam upacara tradisional hingga penyambutan para orang penting ke tanah Nias. Makna dalam tarian ini menggambarkan rasa perdamaian dan kesatuan.
Mogaele diartikan sebagai tarian yang dilakukan oleh perempuan, dan disebut juga sebagai tarian perang karena dulu terjadinya perang antar desa. Selain itu tarian ini akan diiringi dengan lagu khas Nias Selatan.
(FuN)