Senyum Karyamin

Identitas

Judul : “Senyum Karyamin”

Pengarang: Ahmad Tohari

Jumlah Halaman : 71 halaman

Penerbit: Kompas Gramedia

Tahun Publikasi: 2013

Orientasi

‘Senyum Karyamin’ mengandung konflik seperti harga diri, kepedulian, kekhawatiran, kesemena-menaan, keputusasaan, dan toleransi. Dan semua itu adalah realitas atas kehidupan manusia. Meskipun cetakan pertamanya ditulis tahun 1989, namun nilai yang dibawa masih relevan hingga zaman sekarang. Cerpen ini mengangkat kehidupan warga pedesaan.

Sinopsis

Bercerita tentang seorang pemuda pengangkat batu kali yang bernama Karyamin. Karyamin dan kawan-kawannya setiap hari harus mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material. Kesewenang-wenangan para tengkulak mempermainkan harga batu membuat kehidupan Karyamin dan kawan-kawannya tak menjauh dari kemiskinan dan kelaparan. Para pengumpul batu itu senang mencari hiburan dengan menertawakan diri mereka sendiri. Itu adalah cara mereka untuk bertahan hidup. “Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan.”

Pagi itu seperti biasa Karyamin mengangkut batu bersama kawan-kawannya. Namun beberapa kali ia tergelincir. Ia merasakan matanya berkunang-kunang dan perutnya melilit. Setiap kali tubuh Karyamin meluncur dan jatuh terduduk, beberapa kawannya terbahak bersama. Ketika bibir Karyamin nyaris membiru dan pening di kepalanya semakin menghebat menahan rasa lapar yang menggigit, Karyamin memutuskan untuk pulang walaupun ia tahu tak ada apapun untuk mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Kegetiran Karyamin semakin menjadi ketika sesampainya di rumah Pak Pamong menagih sumbangan dana Afrika untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana.

Analisis

Tema yang diangkat dalam cerpen ‘Senyum Karyamin’ adalah perjuangan. Ahmad Tohari menempatkan Karyamin sebagai tokoh yang pantang menyerah dan memiliki hati yang sabar. Cerpen ini dekat dengan kehidupan sehari-hari, karena latar suasana yang digambarkan berupa kesedihan dan kesenangan. Pengarang banyak menggunakan majas hiperbola dan personifikasi pada cerpen ini.

Evaluasi

Banyak pesan moral yang bisa diambil pembaca dalam cerpen ini. Namun, ada beberapa kata kasar dan kata daerah yang sulit dimengerti. Cerpen ini memberikan pelajaran tentang nilai moral terutama perihal tanggung jawab kemanusiaan. Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang ada, cerpen ini tetap nyaman dan layak untuk dibaca. Cerpen ini cocok dibaca untuk kalangan remaja hingga dewasa, ataupun penggemar cerita pendek klasik.