Kucing Orange dan Sebuah Janji
Rafi (14 tahun) terkenal malas dan tidak bertanggung jawab. Kamarnya berantakan, dan tugas-tugas sekolahnya selalu dikerjakan mepet waktu. Suatu pagi, saat ia pulang sekolah, ia menemukan seekor anak kucing oranye di depan rumahnya, matanya sakit dan kakinya terluka.
Rafi membawa kucing itu masuk, meskipun ia tahu ia akan dimarahi ibunya. Ia menyembunyikannya di gudang. Ia menamai kucing itu “Oren”. Merawat Oren adalah hal paling sulit yang pernah Rafi lakukan. Ia harus bangun pagi untuk membersihkan kotoran, merawat luka di kaki Oren, dan memastikan kucing itu makan dan minum.
Suatu hari, Rafi ketiduran setelah bermain game. Ia lupa memberi makan Oren. Ketika ia bangun, ia mendapati Oren lemas. Rafi panik. Ia berlari ke apotek dan memohon dibelikan vitamin dan obat luka. Ia merasa sangat bersalah. “Maafkan aku, Ren. Aku janji, aku akan jadi orang yang bertanggung jawab,” bisik Rafi sambil mengusap kepala Oren.
Ibu Rafi akhirnya mengetahui keberadaan Oren. Ia tidak marah, melainkan terkejut. “Rafi, kamarmu masih berantakan, tapi kamu rajin sekali membersihkan gudang ini. Kamu merawat Oren dengan sangat baik.”
Rafi merasa malu. Sejak saat itu, ia menyadari bahwa tanggung jawab tidak bisa dipilah-pilah. Jika ia bisa bertanggung jawab atas kehidupan Oren, mengapa ia tidak bisa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, terutama tugas sekolahnya?
Rafi mulai berubah drastis. Ia membuat jadwal. Setelah memberi makan Oren dan membersihkan gudang, ia langsung mengerjakan tugas sekolah. Ia membersihkan kamarnya sendiri. Perubahan itu terlihat jelas. Nilai-nilai Rafi membaik, dan ia terlihat lebih ceria.
Beberapa bulan berlalu, Oren sembuh total. Bulunya mengilap, dan ia menjadi kucing yang aktif dan nakal (khas kucing oranye). Saat hari pembagian rapor, Rafi mendapat nilai yang memuaskan dan sebuah surat pujian dari guru wali kelasnya, yang menyoroti perubahannya menjadi siswa yang bertanggung jawab.
Ibu Rafi tersenyum haru. “Terima kasih, Oren,” bisiknya.
Rafi memeluk Oren erat. Ia tahu, seekor anak kucing oranye yang terluka telah mengajarkan kepadanya pelajaran paling berharga dalam hidup: Tanggung jawab dimulai dari hal kecil yang kamu cintai. Dan dengan memegang janji pada makhluk kecil itu, ia telah mengubah dirinya sendiri menjadi pribadi yang lebih baik.