Gosip di Ruang Ganti


Tim voli SMA Kartika sedang berada di puncak popularitas. Bintang mereka adalah Tania, setter handal yang pendiam. Di ruang ganti, menjelang pertandingan final, Desi, kapten tim yang ambisius, mendengar bisikan dari dua anggota tim cadangan.

“Katanya Tania sering bolos latihan malam karena dia kerja sambilan di tempat yang aneh-aneh,” bisik salah satunya.

Desi, tanpa konfirmasi, langsung terhasut. Ia merasa reputasi timnya terancam. “Tania mengkhianati kita! Dia tidak fokus!” pikir Desi.

Desi, dengan wajah dingin, memanggil Tania. “Tania, kudengar kamu punya masalah dengan prioritas. Kami semua di sini berjuang keras, tapi kamu sibuk dengan urusanmu sendiri. Jika kamu tidak fokus di final, aku akan mencadangkanmu.”

Tania hanya menunduk, matanya berkaca-kaca, tanpa membantah. Tindakan Desi yang didasari gosip dan asumsi itu membuat suasana tim tegang.

Saat pemanasan, Tania bermain buruk. Pikirannya terganggu oleh tuduhan Desi. Tim lawan melihat keretakan itu dan memanfaatkannya. Di set pertama, SMA Kartika kalah telak.

Saat jeda, Desi melihat Tania duduk sendirian, menangis tanpa suara. Desi akhirnya merasa bersalah. Ia mendekat. “Tania, aku minta maaf. Apa yang sebenarnya terjadi dengan latihan malammu?”

Tania menyeka air mata. “Aku tidak kerja di tempat aneh, Des. Aku kerja paruh waktu di panti jompo. Aku mengajar baca tulis untuk para lansia. Uangnya kukumpulkan untuk operasi mata Nenekku. Aku tidak bolos, Des. Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian dengan masalahku.”

Desi merasa seperti dihantam batu. Ia telah menghancurkan semangat setter terbaiknya hanya berdasarkan bisikan tak berdasar. Ia tidak hanya merusak reputasi Tania, tapi juga merusak mental timnya sendiri. Desi berdiri di depan tim, menundukkan kepala. “Teman-teman, aku minta maaf. Aku menyebarkan gosip dan menghakimi Tania tanpa bertanya. Kita harus ingat, reputasi seseorang itu seperti porselen, sekali pecah sulit diperbaiki.”

Desi menoleh pada Tania. “Tania, sekarang kamu yang memimpin. Abaikan kata-kataku. Kamu adalah hati dari tim ini.”

Di set kedua, Tania bermain luar biasa. Ia mengumpan bola dengan presisi, didukung oleh Desi yang bermain sebagai spiker dengan semangat penebusan. Mereka bermain dengan hati, bukan karena ambisi, melainkan karena rasa hormat yang baru ditemukan. Mereka membalikkan keadaan dan memenangkan pertandingan secara dramatis.

Setelah kemenangan, Desi menemani Tania mengunjungi panti jompo. Ia membantu Tania mengajar. Desi belajar bahwa menghormati orang lain adalah kunci keberhasilan yang sesungguhnya, baik di lapangan maupun dalam kehidupan.