Lomba Layangan di Kampung Pelangi


Kampung Pelangi dihuni oleh dua komunitas besar: Suku Jawa yang kental dengan tradisi kenduri (selamatan) dan Komunitas Tionghoa yang hidup dengan budaya Sembahyang Leluhur. Kedua kelompok ini hidup berdampingan, namun dipisahkan oleh sungai kecil dan, yang lebih penting, oleh kecurigaan yang diwariskan. Anak-anak mereka jarang berinteraksi.

Tahun ini, desa mengadakan Festival Layang-Layang. Ini adalah tradisi Suku Jawa, tetapi kali ini hadiahnya sangat menggiurkan: beasiswa pendidikan.

Bintang dari Komunitas Jawa adalah Jaka, yang terkenal ahli membuat layangan gapangan berukuran raksasa. Dari Komunitas Tionghoa ada Mei-Hwa, yang diam-diam sangat ahli dalam merancang aerodinamika layangan modern, meskipun dia tidak pernah diizinkan ikut karena orang tuanya menganggap itu buang-buang waktu.

Jaka dan Mei-Hwa diam-diam bertemu di tepi sungai. Jaka kesal karena layangannya yang besar selalu kalah lincah. Mei-Hwa tertarik pada layangan Jaka yang indah namun berat. Mereka mulai bertukar ilmu. Mei-Hwa mengajarkan Jaka tentang rasio berat-terhadap-daya angkat, sementara Jaka mengajarkan Mei-Hwa tentang seni mengendalikan tali di tengah angin yang berubah-ubah.

Komunitas Jawa melihat Jaka sering bertemu Mei-Hwa dan mulai bergosip. “Jaka sudah termakan sihir Komunitas Seberang,” kata mereka. Orang tua Mei-Hwa juga marah, “Kami menyuruhmu belajar, bukan bermain layangan Jawa!”

Pada hari Festival Layang-Layang, Jaka dan Mei-Hwa memutuskan untuk membuat satu layangan bersama. Layangan itu adalah gabungan: bingkainya dirancang dengan presisi matematis ala Mei-Hwa, tetapi kainnya dihiasi dengan motif Batik Parang Rusak buatan Jaka. Mereka menamainya “Garuda Pelangi”.

Saat layangan mereka mengudara, layangan itu menjadi yang paling stabil dan paling tinggi. Namun, di tengah pertempuran sengit, tali layangan mereka tersangkut di layangan lain. Tali itu menipis dan hampir putus. Jaka dan Mei-Hwa harus bekerja sama, Jaka dengan kekuatan dan instingnya menahan tarikan, sementara Mei-Hwa dengan perhitungan cepatnya mencari celah angin.

Saat mereka berjuang, seluruh warga dari kedua komunitas, yang awalnya saling mencibir, kini serentak berteriak memberi dukungan. Mereka melihat bukan lagi dua kelompok yang berbeda, melainkan dua anak yang bekerja keras. Mereka melihat kerukunan yang terbang tinggi.

Layangan “Garuda Pelangi” menang. Tapi yang lebih penting, kemenangan itu telah menjembatani sungai pemisah di antara mereka. Jaka dan Mei-Hwa membagi hadiah beasiswa itu. Orang tua Mei-Hwa akhirnya mengerti bahwa hobi Mei-Hwa adalah passion yang didukung oleh ilmu. Sesepuh Jawa merangkul ayah Mei-Hwa.

Malam harinya, perayaan kemenangan diadakan di tepi sungai, di mana kedua komunitas berbagi hidangan. Sejak saat itu, Kampung Pelangi benar-benar menjadi pelangi; berbeda-beda namun indah, dan saling menghargai adalah tali yang mengikat mereka.