POHON LITERASI DI RUANG BK: MERAJUT RESILIENSI REMAJA LEWAT TEDUHNYA POJOK BACA bagian 1

POHON LITERASI DI RUANG BK: MERAJUT RESILIENSI REMAJA LEWAT TEDUHNYA POJOK BACA

Oleh: Nurul Hikmah, M.Pd

Guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 11 Kota Bima

Pendahuluan

Ruang Bimbingan dan Konseling (BK) kerap dipersepsikan negatif oleh sebagian besar siswa sebagai tempat penyelesaian masalah dan pelanggaran tata tertib. Enam tahun yang lalu, ketika pertama kali ditugaskan sebagai guru BK di SMP Negeri 11 Kota Bima, penulis menghadapi kondisi yang lebih memprihatinkan: sekolah belum memiliki ruang khusus untuk layanan bimbingan dan konseling. Dengan persetujuan Kepala Sekolah, sebuah bekas gudang Laboratorium IPA berukuran 2x3 meter yang terletak di sudut sekolah dan bersebelahan dengan WC siswa dialihfungsikan menjadi ruang BK.

Kondisi yang serba terbatas tersebut sempat menurunkan motivasi kami. Situasi diperberat oleh tidak adanya alokasi jam mengajar resmi bagi guru BK, sehingga tidak tersedia jadwal tatap muka untuk menyampaikan materi secara klasikal di kelas. Meskipun demikian, keterbatasan fasilitas tidak menghambat semangat kami dalam menjalankan tugas. Dari ruangan berukuran 2x3 meter itulah justru muncul pertanyaan mendasar: bagaimana mentransformasi ruang BK yang selama ini dipersepsikan negatif menjadi tempat yang paling nyaman bagi siswa untuk berkembang?

Jawabannya hadir melalui sebuah inovasi sederhana: Pojok Baca, Pohon Literasi, dan Bibliokonseling. Tiga elemen ini kemudian menjadi jantung dari transformasi ruang BK di sekolah kami, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan sarana bukan penghalang untuk melahirkan dampak yang jauh lebih besar daripada ukuran ruangnya. (NH).