POHON LITERASI DI RUANG BK: MERAJUT RESILIENSI REMAJA LEWAT TEDUHNYA POJOK BACA bagian 2

Pembahasan

1. Peta Krisis Mental Remaja Awal di Sekolah

Langkah kecil dari bekas gudang IPA ini sejatinya menjawab realitas besar yang tengah dihadapi bangsa. Berdasarkan data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia setara 15,5 juta jiwa memiliki masalah kesehatan mental, dan 1 dari 20 remaja mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Masa remaja awal adalah fase rawan, ketika daya tahan emosional (resilience) mereka kerap teruji oleh perundungan, tekanan sosial, hingga ketidakpastian masa depan.

Di sekolah kami, gejala itu bukan sekadar angka statistik. Ia hadir dalam wajah-wajah siswa yang datang ke ruang BK bukan karena melanggar aturan, melainkan karena butuh tempat "bernapas" dari tekanan akademik, konflik pertemanan, dan gelombang kecemasan khas remaja awal. Paparan media sosial yang serba cepat turut memperbesar tekanan pertemanan (peer pressure) dan menciptakan kerentanan emosional baru yang tidak selalu bisa diselesaikan hanya lewat nasihat lisan.

Kondisi tersebut menegaskan urgensi kehadiran ruang aman (safe space) suatu ruang fisik sekaligus psikologis di lingkungan sekolah yang bersifat netral, hangat, dan bebas dari penghakiman (non-judgmental space). Ruang BK yang selama ini diasosiasikan dengan "meja sidang" perlu direkonstruksi menjadi ruang yang dicari, bukan dihindari, oleh siswa.

2. Menggerakkan Pojok Baca dan Pohon Literasi

Perjalanan menghadirkan Pojok Baca bermula dari hal yang paling bersahaja: buku-buku koleksi pribadi yang kami boyong dari rumah. Jumlahnya baru belasan, judul dan genrenya pun masih itu-itu saja. Tapi bulan demi bulan, sebagian gaji setia kami sisihkan demi menambah koleksi, dengan satu pegangan: murah tak mengapa, asal original. Tantangannya tak berhenti di harga buku ongkos kirim ke Kota Bima, di ujung Pulau Sumbawa sana, mencapai Rp38.000,00 per kilogram, bahkan lebih bila bukunya datang dari penerbit Jakarta atau Bandung. Sesekali kami harus merogoh Rp200.000,00 untuk satu buku, bahkan jutaan rupiah demi paket premium yang kami beli lewat arisan buku bersama sesama guru.

Jaringan ini kemudian meluas ketika kami bergabung dengan komunitas literasi Negeri Buku dan menjadi bagian dari bank buku wilayah Bima. Buku-buku donasi dari komunitas ini memang bekas, namun tetap original, disampul rapi, dan diseleksi lebih dahulu isinya agar layak dibaca siswa SMP. Setiap kali ada buku baru datang, kami melakukan semacam "unboxing" bersama di ruang BK—momen yang selalu dinanti siswa. Mereka antusias bertanya: buku apa ini, dibeli dengan uang siapa, dan kapan boleh dipinjam.

Program ini kemudian disosialisasikan ke seluruh siswa, lengkap dengan hadiah menarik bagi mereka yang membaca minimal 7–10 buku setiap semester. Mekanismenya sederhana namun konsisten: siswa membaca, merenung, menuliskan kesan atau refleksinya pada kertas kecil berwarna-warni, lalu menempelkannya pada Pohon Literasi yang berdiri di dinding ruang BK. Setiap peminjaman dicatat dalam buku khusus administrasi, sebagai bentuk pertanggungjawaban sekaligus dokumentasi pelaksanaan layanan BK.

Dampaknya terlihat jelas dari pola kunjungan siswa ke ruang BK. Jika sebelumnya ruang ini hanya didatangi 2 - 3 siswa dalam seminggu itu pun biasanya karena dipanggil terkait pelanggaran kini rata-rata belasan siswa datang secara sukarela setiap harinya hanya untuk membaca, meminjam buku, atau sekadar menempelkan refleksi di Pohon Literasi. Buku yang belum kembali pun sesekali harus ditagih, bahkan ada yang hilang, namun hal itu justru menjadi bukti bahwa buku-buku tersebut benar-benar terpakai dan diminati, bukan sekadar pajangan di rak. (NH)