Kemerdekaan, Kesaksian Seorang Penyair

Kemerdekaan, Kesaksian Seorang Penyair

(Karya Sulaiman Juned)

Kemerdekaan adalah

ketika kita bebas berbicara

tentang hak yang berhak

ketika kita bebas dari pasungan

tidak sembunyi dari ketiak ibu

dan lari dalam ketiak bapak.

 

Kita sekarang mengeja kemerdekaan

dengan gedung mewah menyundul langit

bersama perempuan-perempuan di panti pijat

perekonomian melarat, kemiskinan sekarat

kita sekarang membaca kemerdekaan

dengan luka. Darah dan laras senapan-menyerahkan

ini punya nyawa-memberikan ini punya harta

(kita belum mampu mengartikan malam).

 

Ibu, aku menyaksikan air mata darah tertumpah

pada dada memerah. Aku menyaksikan para badut

menggenggam niat busuk-melakonkan pesta canda mengobral

gelisah. Segala perencanaan tersangkut di kantong jas sapari

kolam susu negeriku terkuras habis-membuat istana pribadi

sambil menghitung kekayaan hasil korupsi-naik haji hasil

kolusi-memperbanyak isteri hasil manipulasi;

ibu, berpuluh-puluh tahun kupahat namamu

pada air mengalir

pada batu membeku

pada hati membisu

dan ombak senantiasa menghapusnya.

 

Ibu, subuh berkabut tersangkut di pucuk rambut

ada luka teramat menyiksa tak teraba. Bunga-bunga

bangsa berkunang airmatanya-terpaksa diyatimkan. Kekuasaan bermata

gelap-memaknai keadilan dan akal sehat; mengapa ledakan peluru

menghukumnya-kuburan sebagai penjara seumur hidup

inilah kesaksian seorang penyair kecil. Kesaksian peradaban menuntun perubahan

(Indonesia! Dari sudut manakah wajahmu kupandang tak jemu)