POHON LITERASI DI RUANG BK: MERAJUT RESILIENSI REMAJA LEWAT TEDUHNYA POJOK BACA bagian 3
3. Membedah Ilmiah: Biblioterapi, Resiliensi, dan Menulis
Ekspresif
Apa
yang terjadi di ruang 2x3 meter itu bukan sekadar aktivitas mengisi waktu
luang, melainkan sebuah intervensi psikologis yang dapat dijelaskan secara
ilmiah lewat setidaknya tiga teori pendukung.
Pertama,
Praktik ini berlandaskan konsep biblioterapi. Rubin (1978) mendefinisikan
biblioterapi sebagai metode yang memanfaatkan bahan bacaan untuk membantu
individu memahami emosi, melakukan refleksi diri, dan menyelesaikan
permasalahan pribadi. Pardeck (1993) kemudian menjelaskan bahwa metode ini
bekerja melalui tiga tahapan. Pertama, identifikasi, yaitu ketika pembaca
merasa terhubung dengan tokoh cerita. Kedua, katarsis, yaitu pelepasan emosi
yang selama ini terpendam. Ketiga, insight, yaitu munculnya wawasan baru yang
membantu pembaca memecahkan persoalannya sendiri. Ketiga tahapan itulah yang
terjadi di ruang BK kami—tanpa perlu ceramah panjang. Buku-buku di Pojok Baca
bekerja layaknya "konselor" tersendiri: membantu siswa memahami bahwa
kegagalan, kesedihan, dan rasa insecure adalah bagian wajar dari
proses menuju kedewasaan.
Kedua,
teori resiliensi emosional dari Reivich dan Shatté (2002), yang
merumuskan tujuh pilar kemampuan resiliensi, di antaranya regulasi emosi,
pengendalian impuls, optimisme, dan kemampuan pemecahan masalah. Menariknya, aktivitas
membaca fiksi maupun non-fiksi secara empiris melatih pilar-pilar tersebut.
Saat siswa membaca, mereka diajak berlatih memandang masalah dari sudut pandang
tokoh cerita tanpa merasa dihakimi, sehingga kapasitas mereka untuk bangkit
kembali setelah terhempas esensi dari resiliensi itu sendiri perlahan terasah.
Ketiga,
teori menulis ekspresif (expressive writing) dari Pennebaker
(1997), yang menunjukkan bahwa menuliskan pengalaman emosional dapat menjadi
proses terapeutik dan berkontribusi menurunkan ketegangan psikologis. Aktivitas
menuliskan kesan pada "daun" kertas Pohon Literasi persis
mempraktikkan prinsip ini: siswa menumpahkan pikiran dan perasaan yang sulit
diungkapkan secara lisan ke dalam tulisan singkat, sehingga beban emosional
yang mereka bawa terasa lebih ringan begitu ditempelkan di batang pohon.
Ketiga
teori ini saling melengkapi: biblioterapi menjelaskan mengapa membaca
menenangkan, resiliensi menjelaskan dampak jangka panjangnya pada karakter
siswa, dan menulis ekspresif menjelaskan mengapa ritual menempel
"daun" refleksi di Pohon Literasi memiliki efek meredakan kecemasan.
4. Dampak Nyata di Ruang BK
Perubahan
ini tidak hanya terasa secara teori, tetapi juga tampak dalam keseharian. Salah
satu wali kelas VII pernah menyampaikan bahwa siswa di kelasnya yang semula
kesulitan memahami pelajaran, perlahan mulai lebih mudah mengerti materi
setelah rutin membaca dan meminjam buku di ruang BK. Ada pula siswa yang
mengaku, berkat kebiasaan membaca yang tumbuh dari Pojok Baca, kini ia
bercita-cita menjadi penulis, gemar bercerita (storytelling), dan mulai
mengoleksi buku pribadi di rumah.
Perubahan
itu juga tampak dari cara siswa mendekati ruang BK. Bila dahulu siswa cenderung
enggan mampir kecuali dipanggil, kini pintu ruang BK justru diketuk secara
sukarela. "Ibu, boleh saya pinjam buku ini untuk dibawa pulang? Di rumah
lagi ramai, saya mau baca di kamar," ujar salah satu siswa kelas VIII yang
datang ke Pojok Baca saat jam istirahat. Permintaan sederhana semacam ini, yang
dahulu mustahil terdengar dari ruang BK, kini menjadi pemandangan yang lumrah
kami temui hampir setiap hari.
Kisah
lain datang dari seorang siswa yang awalnya tidak menyukai buku, namun karena
kegemarannya pada budaya populer Korea, ia tertarik pada komik-komik donasi
komunitas Negeri Buku yang tersedia di ruang BK. Komik bekas namun original itu
justru menjadi pintu masuk baginya dan bagi beberapa siswa lain untuk mulai
jatuh cinta pada kegiatan membaca, sekaligus mengajarkan kami bahwa selera
bacaan siswa perlu didekati secara personal, bukan diseragamkan.
Secara
sistemik, dampaknya juga terasa pada iklim sekolah secara keseluruhan. Peran
guru BK bergeser dari sekadar "polisi sekolah" yang identik dengan
sanksi, menjadi mitra tumbuh kembang siswa (wellness mentor) yang hadir
lebih dahulu sebelum masalah membesar. Kepercayaan (rapport) yang
terbangun secara organik ini pada gilirannya membuat siswa lebih terbuka
berkonsultasi ketika menghadapi masalah emosional yang lebih berat, sekaligus
berbanding lurus dengan peningkatan konsentrasi dan kedisiplinan belajar mereka
di kelas.
Penutup
Pengalaman
enam tahun mengelola ruang BK berukuran 2x3 meter ini mengajarkan satu hal
penting: keterbatasan fisik tidak pernah membatasi besarnya dampak yang bisa
dihasilkan. Lewat teduhnya Pojok Baca dan rimbunnya Pohon Literasi, kami
belajar bahwa ketika kami gagal memeluk siswa lewat jam pelajaran di kelas,
kami masih bisa memeluk pikiran dan jiwa mereka lewat kecintaan pada buku.
Ketahanan
sebuah bangsa, pada akhirnya, berakar dari ketahanan mental individu di
dalamnya. Siswa yang tangguh secara emosional tidak akan mudah terprovokasi,
remaja yang terbiasa berpikir kritis lewat bacaan akan tumbuh menjadi warga
negara yang berdaulat, dan anak-anak yang memiliki empati tinggi dari
kisah-kisah yang mereka baca kelak menjadi motor penggerak keadilan sosial.
Dari ruang BK yang sederhana inilah, sebagian kecil ketangguhan generasi
penerus bangsa mulai dirajut.
Sebagai
penutup, saya mengajak sekolah-sekolah lain dan para pemangku kebijakan
pendidikan untuk mempertimbangkan pendekatan literasi pemulihan (restorative
literacy) semacam ini di ruang-ruang konseling. Gerakan literasi tidak
harus menunggu proyek besar atau anggaran melimpah; ia bisa dimulai dari
ruang-ruang sisa yang kita miliki, sekecil apa pun bentuknya. (NH).
Daftar Pustaka
I-NAMHS. (2022). Survei Kesehatan
Mental Remaja Nasional (Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey).
Center for Public Mental Health, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Pardeck, J. T. (1993). Using
Bibliotherapy in Clinical Practice: A Guide to Self-Help Books. Westport:
Greenwood Press.
Pennebaker, J. W. (1997). Writing
about emotional experiences as a therapeutic process. Psychological Science,
8(3), 162–166.
Reivich, K., & Shatté, A. (2002). The Resilience Factor: 7 Keys to Finding